Jumat, 27 April 2012

Tenaga eksogen


TENAGA EKSOGEN
Eksogen atau tenaga eksogen ialah tenaga yang berasal dari luar bumi. Sifatnya merusak atau merombak permukaan bumi yang sudah terbentuk oleh tenaga endogen. Tenaga eksogen juga mengakibatkan bentuk-bentuk muka bumi. Tenaga eksogen dapat berasal dari tenaga air, angin, dan organisme yang menyebabkan terjadinya proses pelapukan, erosi, denudasi, dan sedimentasi. Contoh seperti bukit atau tebing yang terbentuk hasil tenaga endogen terkikis oleh angin, sehingga dapat mengubah bentuk permukaan bumi.
Di permukaan laut, bagian litosfer yang muncul akan mengalami penggerusan oleh tenaga eksogen yaitu dengan jalan pelapukan, pengikisan dan pengangkutan, serta sedimentasi. Misalnya di permukaan laut muncul bukit hasil aktivitas tektonisme atau vulkanisme. Mula-mula bukit dihancurkannya melalui tenaga pelapukan, kemudian puing-puing yang telah hancur diangkut oleh tenaga air, angin, gletser atau dengan hanya grafitasi bumi. Hasil pengangkutan itu kemudian diendapkan, ditimbun di bagian lain yang akhirnya membentuk timbunan atau hamparan bantuan hancur dari yang kasar sampai yang halus. Contoh lain dari tenaga eksogen adalah pengikisan pantai. Setiap saat air laut menerjang pantai yang akibatnya tanah dan batuannya terkikis dan terbawa oleh air. Tanah dan batuan yang dibawa air tersebut kemudian diendapkan dan menyebabkan pantai menjadi dangkal. Di daerah pegunungan bisa juga ditemukan sebuah bukit batu yang kian hari semakin kecil akibat tiupan angin.
Secara umum tenaga eksogen berasal dari 3 sumber, yaitu: Atmosfer, yaitu perubahan suhu dan angin.Air yaitu bisa berupa aliran air, siraman hujan, hempasan gelombang laut, gletser, dan sebagainya. Organisme yaitu berupa jasad renik, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia. Pengerusakan bentuk muka bumi oleh tenaga eksogen berupa pelapukan, pengikisan (erosi) dan pengendapan. Dampak positif tenaga eksogen, antara lain sebagai berikut:
  1. Di daerah pesisir, tenaga eksogen menghasilkan delta-delta di muara sungai yang subur sangat bermanfaat bagi manusia.
  2. Hasil erosi dan sedimentasi di pesisir sangat baik untuk pertanian, dan perikanan. Di pantai utara Pulau Jawa banyak dijumpai sawah-sawah yang subur di sepanjang pantai. Demikian juga tambak-tambak udang dan bandeng.
Dampak negatif lain tenaga eksogen adalah sebagai berikut:
a.       Kesuburan tanah makin berkurang akibat erosi.
b.      Selain subur dan bermanfaat, sedimentasi di muara sungai menyebabkan pendangkalan. Akibatnya lalu lintas air terhambat dan mengakibatkan banjir.
c.       Abrasi yang terus-menerus terjadi mengakibatkan garis pantai makin maju ke arah daratan. Akibatnya banyak rumah di pantai yang hancur dan terendam laut.
d.      Longsor tanah atau lahan di daerah berlereng yang mengakibatkan kerusakan lahan dan bangunan.
e.       Angin kencang dan angin puting beliung mengakibatkan kerusakan tanaman dan bangunan.
Menanggulangi Dampak Negatif Tenaga Eksogen
a.       Untuk menanggulangi dampak negatif tenaga eksogen akibat abrasi dapat dilakukan. Dengan membuat pemecah ombak atau tanggul laut, serta penanaman kembali hutan mangrove yang telah rusak untuk mengurangi dampak abrasi dan tsunami.
b.      Hutan-hutan di lereng gunung yang telah rusak harus diperbaiki dan dilakukan reboisasi untuk mencegah banjir dan tanah longsor.
Di bawah ini akan dijelaskan tentang tenaga eksogen yang berupa:
  1. PELAPUKAN
Pelapukan adalah proses pegrusakan atau penghancuran kulit bumi oleh tenaga eksogen. Pelapukan di setiap daerah berbeda beda tergantung unsur unsur dari daerah tersebut. Misalnya di daerah tropis yang pengaruh suhu dan air sangat dominan, tebal pelapukan dapat mencapai seratus meter, sedangkan daerah sub tropis pelapukannya hanya beberapa meter saja.
Menurut terjadinya pelapukan dapat digolongkan menjadi 3 jenis yaitu:
·         Pelapukan kimiawi
·         Pelapukan fisik atau mekanik
·         Pelapukan organis
a.      Pelapukan Kimiawi
Pada pelapukan ini batu batuan mengalami perubahan kimiawi yang umumnya berupa pengelupasan. Pelapukan kimiawi tampak jelas terjadi pada pegunungan kapur (Karst). Pelapukan ini berlangsung dengan batuan air dan suhu yang tinggi. Air yang banyak mengandung CO2 (Zat asam arang) dapat dengan mudah melarutkan batu kapur (CACO2). Peristiwa ini merupakan pelarutan dan dapat menimbulkan gejala karst. Di Indonesia pelapukan yang banyak terjadi adalah pelapukan kimiawi. Hal ini karena di Indonasia banyak turun hujan. Air hujan inilah yang memudahkan terjadinya pelapukan kimiawi.
Pelapukan kimia sering pula disebut dengan pelapukan khemis. Sebagaimana pelapukan fisis dan pelapukan biologi, pelapukan kimia merupakan bagian dari tenaga eksogen yang bersifat merusak (destruktif). Menurut Samadi (2007:87), "Pelapukan kimia merupakan proses penghancuran batuan disertai dengan perubahan struktur kimianya". Perubahan struktur kimia yang dimaksud adalah perubahan struktur kimia penyusun batuan yang mengalami pelapukan tersebut.
Ahmad Yani dan Mamat Ruhimat (2008:92) mengemukakan bahwa dalam prosesnya, air merupakan faktor utama sebagai zat pelarut. Air yang dimaksud adalah air hujan. Pelapukan kimia ini umumnya terjadi di daerah yang berbatuan induk kapur (daerah yang bertopografi karst). Sebenarnya batuan kapur merupakan batuan yang tidak tembus air (permeabel), tetapi karena batuan ini banyak dijumpai adanya celah retakan (diaklas) sehingga air hujan yang banyak mengandung CO2 meresap ke dalamnya hingga menimbulkan pelarutan.
Pelapukan kimia membuat komposisi kimia dan mineralogi suatu batuan dapat berubah. Mineral dalam batuan yang dirusak oleh air kemudian bereaksi dengan udara (O2 atau CO2), menyebabkan sebagaian dari mineral itu menjadi larutan. Selain itu, bagian unsur mineral yang lain dapat bergabung dengan unsur setempat membentuk kristal mineral baru.
Pada pelapukan kimia air dan gas terlarut memegang peran yang sangat penting. Sedangkan pelapukan kimia sendiri mempunyai peran terpenting dalam semua jenis pelapukan. Hal ini disebabkan karena air ada pada hampir semua batuan walaupun di daerah kering sekalipun. Akan tetapi pada suhu udara kurang dari 30o C, pelapukan kimia berjalan lebih lambat. Proses pelapukan kimia umumnya dimulai dari dan sepanjang retakan atau tempat lain yang lemah.
Kecepatan pelapukan kimia tergantung dari iklim, komposisi mineral dan ukuran butir dari batuan yang mengalami pelapukan. Pelapukan akan berjalan cepat pada daerah yang lembab (humid) atau panas dari pada di daerah kering atau sangat dingin. Curah hujan rata-rata dapat mencerminkan kecepatan pelapukan, tetapi temperatur sulit dapat diukur. Namun secara umum, kecepatan pelapukan kimia akan meningkat dua kali dengan meningkat temperatur setiap 10oC. Mineral basa pada umumnya akan lebih cepat lapuk dari pada mineral asam. Itulah sebabnya basal akan lebih cepat lapuk dari pada granit dalam ukuran yang sama besar. Sedangkan pada batuan sedimen, kecepatan pelapukan tergantung dari komposisi mineral dan bahan semennya.
Jenis pelapukan kimia
1.      Hidrolisis adalah reaksi antara mineral silikat dan asam (larutan mengandung ion H+) di mana memungkinkan pelarut mineral silikat dan membebaskan kation logam dan silika. Mineral lempung seperti kaolin, ilit dan smektit besar kemungkinan hasil dari proses pelapukan kimia jenis ini (Boggs, 1995). Pelapukan jenis ini memegang peran terpenting dalam pelapukan kimia.
2.      Hidrasi adalah proses penambahan air pada suatu mineral sehingga membentuk mineral baru. Lawan dari hidrasi adalah dehidrasi, dimana mineral kehilangan air sehingga berbentuk anhydrous. Proses terakhir ini sangat jarang terjadi pada pelapukan, karena pada proses pelapukan selalu ada air. Contoh yang umum dari proses ini adalah penambahan air pada mineral hematit sehingga membentuk gutit.
3.      Oksidasi berlangsung pada besi atau mangan yang pada umumnya terbentuk pada mineral silikat seperti biotit dan piroksen. Elemen lain yang mudah teroksidasi pada proses pelapukan adalah sulfur, contohnya pada pirit (Fe2S).
4.      Reduksi terjadi dimana kebutuhan oksigen (umumnya oleh jasad hidup) lebih banyak dari pada oksigen yang tersedia. Kondisi seperti ini membuat besi menambah elektron dari Fe3+ menjadi Fe2+ yang lebih mudah larut sehingga lebih mobil, sedangkan Fe3+ mungkin hilang pada sistem pelapukan dalam pelarutan.
5.      Pelarutan mineral yang mudah larut seperti kalsit, dolomit dan gipsum oleh air hujan selama pelapukan akan cenderung terbentuk komposisi yang baru.
6.      Pergantian ion adalah proses dalam pelapukan dimana ion dalam larutan seperti pergantian Na oleh Ca. Umumnya terjadi pada mineral lempung.
Gambar di bawah ini merupakan contoh bentukan dari pelapukan kimia daerah karst di Malang Selatan. Pelarutan batuan kapur oleh air hujan yang mengandung karbon dioksida melalui diaklas melantarkan terbentuknya rongga-rongga kapur hingga membentuk gua-gua karst dan gejala-gejala lain yang ada di dalamnya.
Gambar di atas merupakan bentuk bagian dalam dari "gua Sengik" dengan stalaktit-stalaktit muda yang bergelantungan di atap gua dengan ujung meruncing. Stalaktit tersebut terbentuk melalui hasil pelarutan kapur oleh air hujan yang merembes dan mengering di langit-langit gua. Ada pula tetesan air hujan tersebut yang kemudian sampai di dasar gua, hingga menguap dan mengering. Pengendapan kapur di dasar gua menghasilkan bentukan yang disebut stalagmit. Karakteristik dari stalagmit itu ujungnya tumpul dan tidak memiliki saluran untuk merembeskan air. Satu hal yang istimewa pada bentukan di gua yang berada di kompleks wisata 'lokal' Desa Mentaraman Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang ini. Gua ini di dalamnya terdapat semacam stalaktit berbentuk seperti meja berwarna coklat muda yang mengeluarkan air dengan semburan lembut.
  1. Pelapukan Fisik dan Mekanik
Pada proses ini batuan akan mengalami perubahan fisik baik bentuk maupun ukuranya. Batuan yang besar menjadi kecil dan yang kecil menjadi halus. Pelapukan ini di sebut juga pelapukan mekanik sebab prosesnya berlangsung secara mekanik.
Contoh proses pelapukan mekanik:
Penyebab terjadinya pelapukan mekanik yaitu:
1.      Adanya perbedaan temperatur yang tinggi.
Peristiwa ini terutama terjadi di daerah yang beriklim kontinental atau beriklim Gurun di daerah gurun temperatur pada siang hari dapat mencapai 50 Celcius. Pada siang hari bersuhu tinggi atau panas. Batuan menjadi mengembang, pada malam hari saat udara menjadi dingin, batuan mengerut. Apabila hal itu terjadi secara terus menerus dapat mengakibatkan batuan pecah atau retak-retak.
2.      Adapun pembekuan air di dalam batuan
Jika air membeku maka volumenya akan mengembang. Pengembangan ini menimbulkan tekanan, karena tekanan ini batu-batuan menjadi rusak atau pecah pecah. Pelapukan ini terjadi di daerah yang beriklim sedang dengan pembekuan hebat.
3.      Berubahnya air garam menjadi kristal.
Jika air tanah mengandung garam, maka pada siang hari airnya menguapdan garam akan mengkristal. Kristal garam garam ini tajam sekali dan dapat merusak batuan pegunungan di sekitarnya, terutama batuan karang di daerah pantai.
  1. Pelapukan Organik
Penyebabnya adalah proses organisme yaitu binatang tumbuhan dan manusia, binatang yang dapat melakukan pelapukan antara lain cacing tanah, serangga.
Dibatu-batu karang daerah pantai sering terdapat lubang-lubang yang dibuat oleh binatang. Pengaruh yang disebabkan oleh tumbuh tumbuhan ini dapat bersifat mekanik atau kimiawi. Pengaruh sifat mekanik yaitu berkembangnya akar tumbuh-tumbuhan di dalam tanah yang dapat merusak tanah disekitarnya. Pengaruh zat kimiawi yaitu berupa zat asam yang dikeluarkan oleh akar- akar serat makanan menghisap garam makanan. Zat asam ini merusak batuan sehingga garam-garaman mudah diserap oleh akar. Manusia juga berperan dalam pelapukan melalui aktifitas penebangan pohon, pembangunan maupun penambangan.
Contoh gambar pelapukan organik
2.      EROSI
Erosi adalah peristiwa pengikisan tanah oleh angin, air atau es. Erosi dapat terjadi karena sebab alami atau disebabkan oleh aktivitas manusia. Penyebab alami erosi antara lain adalah karakteristik hujan, kemiringan lereng, tanaman penutup dan kemampuan tanah untuk menyerap dan melepas air ke dalam lapisan tanah dangkal. Erosi yang disebabkan oleh aktivitas manusia umumnya disebabkan oleh adanya penggundulan hutan, kegiatan pertambangan, perkebunan dan perladangan. Erosi bisa terjadi karena banyak sebab. Bisa karena air, kekuatan gelombang laut, angin, bahkan es.
Kerikil merupakan akibat dari erosi juga. Tepatnya, ia berasal dari batu. Akibat tergerus oleh gerakan air secara terus-menerus dalam waktu yang lama, batu yang semula berukuran besar dan keras, akhirnya remuk juga. Dari remukan batu itu, jadilah kerikil.
Dampak dari erosi adalah menipisnya lapisan permukaan tanah bagian atas, yang akan menyebabkan menurunnnya kemampuan lahan (degradasi lahan). Akibat lain dari erosi adalah menurunnya kemampuan tanah untuk meresapkan air (infiltrasi). Penurunan kemampuan lahan meresapkan air ke dalam lapisan tanah akan meningkatkan limpasan air permukaan yang akan mengakibatkan banjir di sungai. Selain itu butiran tanah yang terangkut oleh aliran permukaan pada akhirnya akan mengendap di sungai (sedimentasi) yang selanjutnya akibat tingginya sedimentasi akan mengakibatkan pendangkalan sungai sehingga akan mempengaruhi kelancaran jalur pelayaran.
a.      Erosi oleh Angin
Erosi oleh angin adalah pengikisan yang disebabkan oleh angin. Hembusan angin kencang yang terus menerus di daerah yang tandus dapat memindahkan partikel-partikel halus batuan di daerah tersebut sehingga membentuk suatu formasi, misalnya bukit-bukit pasir di gurun atau pantai.
Contoh gambar erosi oleh angin
b.      Erosi oleh Gletser
Erosi oleh gletser merupakan pengikisan yang dilakukan oleh gletser (lapisan es) di daerah pegunungan. Pengikisan ini terjadi di daerah yang memiliki empat musim. Pada saat musim semi, terjadi erosi oleh gletser yang meluncur menuruni lembah. Akkibatnya lereng menjadi lebih terjal. Contoh bentang alam yang terjadi akibat erosi gletser adalah pantai fyord, yaitu pantai dengan dinding yang berkelok kelok
Contoh gambar erosi oleh gletser 
c.       Erosi Akibat Gaya Berat
Batuan atau sedimen yang bergerak terhadap kemiringannya merupakan proses erosi yang disebabkan oleh gaya berat .Erosi ini akan berlangsung sangat cepat sehingga dapat menimbulkan bencana longsor
Contoh gambar erosi akibat gaya berat   

d.      Erosi oleh Air
Erosi oleh air adalah erosi yang di sebabkan oleh air atau air hujan.Jika tingkat curah hujan berlebihan sedemikian rupa sehingga tanah tidak dapat menyerap air hujan maka terjadilah genangan air yang mengalir kencang.Aliran air ini sering menyebabkan terjadinya erosi yang parah karena dapat mengikis lapisan permukaan tanah yang dilewatinya, terutama pada tahapan dalam Erosi Air.
Contoh gambar erosi oleh air
Proses pengkikisan oleh air yang mengalir terjadi dalam empat tingkatan yang berbeda sesuai dengan kerusakan tanah atau batuan yang terkena erosi, sebagai berikut:
§  Erosi percik, yaitu proses pengkikisan oleh percikan air hujan yang jatuh ke bumi.
§  Erosi lembar, yaitu proses pengkikisan lapisan tanah paling atas sehingga kesuburannya berkurang. Pengkikisan lembar ditandai oleh :
ü  Warna air yang mengalir berwarna coklat
ü  Warna air yang terkikis menjadi lebih pucat
ü  Kesuburan tanah berkurang
§  Erosi alur, adalah lanjutan dari erosi lembar. Ciri khas erosi alur adalah adanya alur-alur pada tanah sebagai tempat mengalirnya air.
§  Erosi parit, adalah terbentuknya parit-parit atau lembah akibat pengkikisan aliran air.
e.       Erosi oleh Air Laut
Erosi oleh air laut merupakan pengikisan di pantai oleh pukulan gelombang laut yang Terjadi secara terus - menerus terhadap dinding pantai. Bentang alam yang diakibatkan oleh erosi air laut, antara lain cliff (tebing terjal), notch (takik), gua di pantai, wave cut platform (punggung yang terpotong gelombang), tanjung, dan teluk.
Cliff terbentuk karena gelombang melemahkan batuan di pantai. Pada awalnya gelombang meretakan batuan di pantai. Akhirnya, retakan semakin membesar dan membentuk notch yang semakin dalam akan membentuk gua. Akibat diterjang gelobang secara terus menerus mengakibatkan atap gua runtuh.
Contoh gambar erosi oleh air laut

  1. SEDIMENTASI
            Sedimentasi adalah proses pemisahan padatan yang terkandung dalam limbah cair oleh gaya gravitasi, pada umumnya proses Sedimentasi dilakukan setelah proses Koagulasi dan Flokulasi dimana tujuannya adalah untuk memperbesar partikel padatan sehingga menjadi lebih berat dan dapat tenggelam dalam waktu lebih singkat.
            Sedimentasi bisa dilakukan pada awal maupun pada akhir dari unit sistim pengolahan. Jika kekeruhan dari influent tinggi, sebaiknya dilakukan proses sedimentasi awal (primary sedimentation) didahului dengan koagulasi dan flokulasi, dengan demikian akan mengurangi beban pada treatment berikutnya. Sedangkan secondary sedimentation yang terletak pada akhir treatment gunanya untuk memisahkan dan mengumpulkan lumpur dari proses sebelumnya (activated sludge, OD, dsb) di mana lumpur yang terkumpul tersebut dipompakan ke unit pengolahan lumpur tersendiri.
gb743
Contoh sedimentasi
Sedimen dari limbah cair mengandung bahan bahan organik yang akan mengalami proses dekomposisi, pada proses tersebut akan timbul formasi gas seperti carbon dioxida, methane, dsb. Gas tersebut terperangkap dalam partikel lumpur di mana sewaktu gas naik keatas akan mengangkat pule partikel lumpur tersebut, proses ini selain menimbulkan efek turbulensi juga akan merusak sedimen yang telah terbentuk.
Pada Septic-tank, Imhoff-tank dan Baffle-reactor, konstruksinya didesain sedemikian rupa guna menghindari efek dari timbulnya gas supaya tidak mengaduk/merusak partikel padatan yang sudah mapan (settle) didasar tangki, sedangkan pada UASB (Uplift Anaerobic Sludge Blanket) justru menggunakan efek dari proses tersebut untuk mengaduk aduk partikel lumpur supaya terjadi kondisi seimbang antara gaya berat dan gaya angkat pada partikel lumpur, sehingga partikel lumpur tersebut melayang-layang/mubal-mubal.
Setelah proses dekomposisi dan pelepasan gas, kondisi lumpur tersebut disebut sudah stabil dan akan menetap secara permanen pada dasar tangki, sehingga sering juga proses sedimentasi dalam waktu yang cukup lama disebut dengan proses Stabilisasi. Akumulasi lumpur (Volume) dalam periode waktu tertentu (desludging-interval) merupakan parameter penting dalam perencanaan pengolahan limbah dengan proses sedimentasi dan stabilisasi lumpur.
a.       Berdasarkan tenaga alam yang mengangkutnya:
1.      (Sedimen akuatis : oleh air (ablasi)
2.      Sedimen aeolis : oleh angina
3.      Sedimen marine : oleh air laut (abrasi)
4.      Sedimen glacial : oleh gletser
b.                              Berdasarkan tempat pengendapan :
1.      Sedimen Fluvial Proses pengendapan materi-materi yang diangkut oleh air, angin, dan es. Ciri-ciri sedimentasi fluvial
Ø  Makin ke hilir, makin kecil ukuran butiran batuan yang diendapkan.
Ø  Pada bagian hulu, batuan yang diendapkan berupa bongkahan-bongkahan besar dengan sudut runcing.
Ø  Di bagian tengah sungai, batuan yang diendapkan batuan gulung yang berbentuk bulat.
Ø  Di bagian muara sungai, yang diendapkan berupa pasir halus dan lumpur.
Bentuk lahan hasil sedimen fluvial antara lain seperti berikut:
a)      Delta
Endapan pasir, lumpur, dan kerikil yang terdapat di muara sungai. Macam-macam delta:
·         Delta runcing, misalnya: Delta Sungai Tiber di pantai Itaka,
·         Delta cembung (delta kipas), misalnya: Delta Sungai Nil,
·         Delta kaki burung, misalnya: Delta Sungai Mississipi di Teluk Meksiko,
·         Delta pengisi estuarium, misalnya: Delta Sungai Seine di Perancis
Estuarium adalah muara sungai yang berbentuk corong.

b)      Bantaran sungai
Daratan yang terdapat d tengah-tengah badan sungai sebagai hasil endapan. Bantaran sungai banyak dijumpai di daerah muara sungai.
2.      Sedimen Eolis
Sering disebut terrestrial. Sedimen eolis sering dijumpai di daerah gurun atau sungai. Bentukkan alam yang merupakan hasil dari sedimen eolis yang guguk pasir atau berkhan, guguk pasir di Indonesia banyak dijumpai di pantai Parang Tritis (Yogyakarta).
3.      Sedimen marine
Proses pengendapan yang dilakukan oleh gelombang laut yang terdapat di sepanjang pantai. Bentuk alam sebagai hasil dari sedimen marine, misalnya:
Ø  Beach/bisik. Bentukan deposisional umumnya pada pantai landai, terjadi jika swash membawa muatan sedimen.
Ø  Bar. Gosong pasir di pantai yang arahnya memanjang sebagai hasil pengerjaan arus laut.
Ø  Tombolo. Gosong pasir yang menghubungkan suatu pulau karang dengan pulau utama.
Ø  Nehrung. Endapan pasir yang melintang berbentuk seperti lidah. Bentkan ini sering terdapat di sepanjang (melintang) mulut estuary atau teluk. Nehrung terjadi apabila dipantai ada lekukan seperti teluk atau estuaria atau jika garis pantai berubah arah secra tajam. Hal ini mengakibatkan material pasir diendapkan dan dibentuk di kuar jajaran yang asal. Ujung yang satu bersatu dengan daratan utama, sedangkan ujung yang lainterdapat di laut.
Ø  Sedimen limnis, yaitu di danau atau rawa
Ø  Sedimen glasial, yaitu di daerah es
4.      PENCUCIAN TANAH (MASSWASTING)
Pencusian Tanah (Massawasting) Pencucian tanah merupakan berpindahnya massa batuan ke bawah lereng sebuah gunung atau bukit atau pada tanah miring yang dipengaruhi secara langsung oleh gravitasi bumi.
Gerakan tanah atau masswasting yang dalam bahasa sehari –hari dikatakan longsor .gerakan tanah iniadalah bergeraknya masa regolith ketempat yanglebh rendah akibat gaya tarik grafitasi tanpa bantuan medium trnsportasi, seperti air es atau angin yang terjadi sebenarnya adalah keseimbangan awal .dan untuk mencapai keseimbangan baru terjadi longsor.
Contoh gambar pencucian tanah


  










Tidak ada komentar:

Poskan Komentar